Selasa, 04 Desember 2018

Ada, namun entah dimana

Suatu sore aku selalu meminta, bahkan tak hanya itu, setiap pagi dan dalam lima waktu sujudku kadang terselip barisan harapan yang sama, untuk sesuatu yang ada namun entah dimana. Kini duniaku adalah aku dan kalian dan kita, bukan hanya aku saja. Pernah dalam permohonan seolah keputus asaan yang datang, kalimat pengharapan itu seakan lupa untuk aku naikan, aku terdiam dan melanjutkan apa yang harus ku kerjakan..

Aku yakin semua orang punya mimpi yang berbeda, dari berbagai macam mimpi, mungkinkah mimpiku ini yang seolah memaksa? Ah kurasa benarkah aku? Terlalu imajinatifkah aku? Bermimpi sesuatu itu datang di akhir tahun, dan menjelang semuanya, aku seolah betul betul melupakan mimpi itu, tak pernah senafas pun mimpi itu lewat, dan akhirnya benar-benar ku lewatkan..

Bila ini bulan ke-tiga belas,  bunga yang kurasa telah ku rawat sendiri mulai menampakan kuncupnya setelah beberapa tahun keringya. Biarlah aku sendiri saja yang merawatnya terlebih dahulu, ibu bapakku pun telah mengetahuinya. Ku rasa aku masih banyak yang harus ku lewati tanpa merangkak, bukan hanya sesaat cahaya yang datang, tapi harapan yang tak pernah sirna bahwa cahaya itu kan bawa kebaikan sampai akhirat nanti..

Bismillah atas nama Allah, ku percaya bahwa Ia Maha Segalanya dan Maha Pengampun..

Kamis, 21 Juni 2018

"Alhamdulillah.. (sumringah ekspresinya menyesaki ruangan waktu itu)

Ya, siang tadi aku bahagia.
tentu saja tak terlepas dari Allah sang Maha  Cinta yang menganugerahkan kebahagian padaku setiap waktunya, termasuk siang tadi.

Ooh iya, buat kalian yang baru masuk ke blog aku *ceilah aku* wkwk kenalin aku mantan remaja labil yang insya.Allah Allah takdirkan untuk jadi terapis, tepatnya terapis akupunktur, bagi yang belum banyak kepo tentang akupunktur boleh lah kalian scroll bawah untuk perkenalan..

Oke cerita dilanjut yes, hari ini aku bertemu degan pasienku seorang Bapak yang nampak memiliki aura kesabaran tingkat moderat menuju expert, (wkwk opo kui bahasane?) nama Bapaknya ialah Pak S, pertama kali ku bertemu dengan beliau yakni pada tanggal 04 Juni 2018 tepatnya hari Sabtu, Bapak tersebut datang dengan keluhan sakit pinggang yang menjalar sampai paha dan lutut area kanan, dan belum lama juga keluhan tersebut dirasakan. Setelah di anamnesa (diwawancara) perihal penyakitnya dan tentunya sebelumnya kita tanyakan terlebih dahulu data pribadinya seperti nama, usia, alamat, dan lain sebagainya. Setelah dilakukan pemeriksaan dan anamnesa tadi barulah didapat diagnosa secara medis Timur seperti apa, dan langsung dilakukan tindakan. Sebagai terapis akupunktur tentunya pelayanan yang kami berikan ialah metode terapi dengan menusukkan jarum-jarum khusus akupunktur di titik tertentu di permukaan tubuh, lalu diberi getaran agar rangsangan yang diberikan bisa teratur lalu setelah 25 menit kemudian jarum dicabut kembali dan kami beri terapi kop atau lebih dikenal dengan"cupping therapy"

Singkat cerita Bapak tersebut pamit karena proses terapi sudah selesai dan bertanya kapan ia harus kontrol lagi, lalu aku sarankan hari Rabu saja. Namun, tak disangka hari Senin Bapak tersebut datang bersama temannya, ia berniat mengantar temannya saja yang hendak terapi dan sesaat aku tanya keadaan Bapak S setelah terapi ternyata Alhamdulillah qodarullah Bapak bilang kalau perkembangannya sudah banyak, dia merasa sangat lebih baik. Masya Allah betapa senangnya bisa mendengar kabar tersebbut, dan Bapak tersebut keukeuh pengen kontrolnya hari  Rabu aja..

Alhamdulillah sekian ceritanya pemirsa, maafin banyak beberapa kata yang saya pakai dengan kata yang tidak baku, wkwk maklum lah blognya masih woles. Insya Allah kalo pembahasannya serius kita pakai diksi yang formal :D :D

Semoga selalu ada manfaat yang reader ambil dari blog yg super ordinary ini, ahaha.. Terima kasih sudah mampir, saya Lis Sutrisna pamit undur diri. Sampai ketemu di cerita berikutnya..

Wassalamu'alaykum warahmatullaah..

Kamis, 07 Juni 2018

Save Me From My Self (my version)

Tidak ada yang tak mungkin
Bisakah aku tetap bersamamu? meski bumi kan beralih jarak dan angin punya arah hembusan yang berbeda?
Sudikah kau ku temani? Hanya dalam do'a saja..
Ku bersamaimu dalam 5 waktu wajibku
Jika perlu, aku kan memintamu di sepertiga malamku

Ya Rabb..
Nampaknya tak patut untuk ku tanya
Siapa dia?
Dimana dia?
Kapan kita akan diperjumpa?
Cukup ku nikmati saja
Kebahagian-kebahagian yang selalu Engkau berikan sebelum kau datangkan ia
Sang penyejuk hari penyempurna separuh diri ini

~Jarumkecilbercerita

Minggu, 01 April 2018

Purnama Berbalas Rin(Sen)du

Pagi ini terasa merekah
Sang fajar masih ditemani purnama
Kakiku melangkah kuat tanpa ada tayangan masa lalu

Segar ini semerbak menyerutkan sebuah senyum dari tanah gersang
Bertemu dengan kakak cantik yang berucap terima kasih saat membuka matanya

Selanjutnya, pagiku bersambung riuh
Berantai ratusan ratusan kaki yang tengah mengais rezeki
Langkah yang ku tujukan hanya untuk menikmati hangatnya kota

Menjelang siang, kembali ku basuh diri ini
Bergegas berseragam menyambangi ruangan yang biasanya ku lewatkan
Pekerjaan hari ini belum begitu tampak jelas
Belum ada pasien datang yang membutuhkan pertolongan

Detak jam tak seirama dengan detak hati
Jam yang selalu tunjukkan angka, sedangkan hati selalu bunuhkan rindu
Tak sekedip pun lagi lagi ku ingatkan kejadian beberapa tahun lalu

Tak lama menunggu, pelayanan kesehatan yang kami sediakan ada yang menyambangi
Sebuah keluarga bahagia nampak tiba dengan benar-benar bahagia
Seorang anak yang aku fokuskan, bersama sang Ayah beserta bundanya
Aku fikir ia adalah mahasiswa
Namun didengar dari cakapnya ia bak kesulitan berbahasa
Dugaanku terlempar bahwa anak itu adalah mahasiswa yang berkuliah di luar negeri
Jadi, dialeg yang ia gunakan seperti orang dari negeri sakura
Ah, sudahlah prasangkaku ku sudahi dengan mengukur tekanan darah sang Ayah
Yang tak lama si Ayah berkata "Putra kami baru kelas VIII Kak, tapi badannya memang besar"
Lalu percakapan ringan dan penuh canda pun terjadi diantara kami

Setelah semua selesai, keluarga itu pulang
Lalu aku berbincang dengan sang kakak kelas perihal kenangan masa di bangku kuliah
Semua nampak indah dengan cerita tanpamu didalamnya
Ya, lagi lagi aku tak mengingatmu

Menjelang sore, waktu istirahat tiba
Ku saut kotak nasi yang ku bawa,
Ku tulis rencana-rencana bulan ini dengan segenap usaha
Tak ku niati untuk memejamkan mata
Namun apa daya aku terlelap juga

Dering telepon membangunkanku, menandakan bahwa waktu tidurku melampaui batas
Ku terbangun dan merapikan diri, kembali ke meja kerja dengan mata terlipat di tepi
Lagi-lagi sampai sesore itu aku tak mengingatmu

Menjelang surup, buku resepsionis harus segera aku tutup
Laporan keuangan harus terapikan seiring berhembusnya angin bertiup
Lampu ku matikan, ranselku bawakan
Dan lagi-lagi aku tak mengingatmu

Kini, malam sudah bukakan pintunya
Aku masih belum meninggalkan tempat kerjaku
Ku mendekati kakak imut yang tengah memasukan serbuk ke dalam kapsul
Aku menyukainya, menyukai cara mengemas kapsulnya
Dan aku bersenang hati agar dapat melakukannya
Kembali, lagi dan lagi aku tak mengingatmu sejauh ini di hari ini
Sungguh tak ku sadari
Mengagumkan bukan?

Sudah saatnya purnama muncul temani sang malam
Sudah saatnya pula aku pulang ke kamar yang tak begitu luas
Ku lihat ponselku, karena biasanya Ibukku dengan setia selalu berbagi kisah
Dan setelah berbisik lembut dengan sedikit gundah yang ibu ceritakan lewat telepon
ku buka sosial media yang telah lama ku gundahkan tentangmu
Tentang menghapus atau kah tetap menyimpannya
Tentang memblokir atau kah membiarkannya
Sebetulnya sangat senang jika aku memblokir atau menghapusnya saja
Setidaknya aku tidak akan berharap ada pesan yang datang darinya
Ataupun story nya yang bisa aku lihat dari namanya
Apalagi jika story itu adalah seolah tentang teman yang lain
Jika itu terjadi, aku merasa bahwa kita sudah tak berteman
Jangankan bercanda tentang hari kita, menanyakan kabarku saja kau tidak pernah
Jangankan bertemu seperti dulu, memberi salam lewat media saja nampaknya susah
Ah, kenapa lagi aku?
Setelah melihat story-mu sore ini, ingatanku pulih
Kamu tunjukan penghargaan dengan senyum yang seolah melupakan, ya melupakanku maksudnya
Awalnya aku tak mau membukanya, tapi hati ini belum kuat menahannya
Ah, apalagi ini?
Jemariku jadi pandai menekan beberapa huruf yang ada di komputer kecil ini
Anganku seolah memunculkan beberapa pertanyaan untukmu
Seperti inikah caramu berteman, kawan?
Seperti itukah caramu melupakan?
Memang mungkin kau rasa tak ada yang istimewa dalam hari-hari kita dulu
Tapi bagiku, setidaknya dua tahun kita berteman itu cukup mengenangkan,
Piring yang kita gunakan makan pun pernah berdampingan
Semudah itu kah semuanya kau retakkan?
Hanya dengan alasan kita sudah dipisahkan dengan toga dan gelar masing-masing kawan


~

Senin, 26 Maret 2018

ex-Hati by Aliya

"Mas,.. *bla bla bla.."
Sekitar 6 tahun yang lalu kata itu pernah terucap dari bibir Aliya, hal yang sepele saja selalu ia tanyakan kepada orang yang ia anggap dekat padahal nyatanya jauh. Aliya tinggal di Bogor, sedangkan orang yang ia panggil "Mas" itu bertempat tinggal di Surabaya, bak ujung Barat dan ujung Timur, sangat susah untuk bertemu namun hati Aliya meyakini bahwa ia bahagia meski terbentang jarak.

Kini Aliya sudah menjadi seorang penulis sesuai cita-citanya di Bogor, sesekali ruang rindu itu masih hadir menunggu kedatangannya dan seseorang yang kerap ia panggil "Mas" lewat telepon yang tak lain adalah mas alumni tambatan hati ya kita sebut saja ex-Hati yang memiliki nama lengkap Mas Ridwan, seseorang yang terpaut lima tahun dengan Aliya, semasa SMA Aliya mas Ridwan sudah lebih dulu menjajaki dunia kerja di salah satu pabrik percetakan di Surabaya, mereka merasa satu frekuensi karena sama-sama meyukai club sepak bola Persebaya, dan sangat senang jika sudah berbalas chat menggunakan puisi puisi pendek.

Aliya dan mas Ridwan saling kenal sejak masa SMA dan ketika masa kuliah mas Ridwan datang berlibur ke Bogor bersama keluarganya, disitulah Aliya pertama kali bertemu dengan Ibu dan Ayah serta adiknya mas Ridwan. Mas Ridwan memang terlihat tak seagresif laki-laki yang lain disaat menyukai seorang perempuan, mas Ridwan termasuk orang yang tak banyak bicara. Pertemuan kali ini membuat Aliya agak takut kepada Ayah mas Ridwan yang tampak garang namun penyayang. Tak banyak hal yang mereka lakukan waktu itu, hanya salaman, saling sapa, dan mengambil gambar. entah apa yang menjadi penyebab, setelah mas Ridwan dan keluarga kembali ke Surabaya, mas Ridwan memberi keputusan kalau sebulan lagi ia akan kembali dengan maksud menemui Aliya saja, sontak ini membuat Aliya terkejut dan bahagia, karena sebelumnya tidak ada yang pernah memberi ajakan se-spesial ini, jadi Alaiya pada kesempatan ini tak bisa menolak.

Singkat cerita, sebulan berikutnya mas Ridwan kembali seorang diri ke Bogor dan mengajak Aliya untuk pergi bersama, tak tinggal begitu saja, Aliya mengajak sahabatnya Arlita untuk menemani mereka merasakan atmosfer libur akhir pekan.

Cerita kita percepat, ketika masa magang semester 6 pun Aliya ditugaskan magang di Surabaya, dan Tuhan ijinkan untuk bertemu ibunya mas Ridwan di rumahnya, ya saat itu kedekatan Aliya dan mas Ridwan memang sudah hanya sepasi rembulan namun mereka tetap berteman, meski setelah lulus SMA mas Ridwan pernah berbicara yang cukup serius dengan menanyakan
"Sanggupkah Aliya untuk tinggal di Surabaya di masa yang akan nanti?"
"Sudah bisa masak apa aja, Aliya?"
dan yang paling serius
"Aliya, penghasilanku perbula cuma segini (sambil menyebutkan nominal) apa itu cukup untuk biaya hidup per bulan kita?"
"Oh iya, Aliya, ngontrak rumah juga tidak cukup biaya sedikit lho, apa kamu mau serumah sama ibu mas Rdwan?"
Peryanyaan-pertanyaan itu seolah menanyakan keseriusan Aliya, namun saat ini waktu berjalan, mas Ridwan tidak lagi seperhatian dulu, karena setelah tinggalkan Aliya, mas Ridwan pun punya kekasih lain yang lebih dekat ketimbang harus ke Bogor, namun nasib yang dialami Aliya pun dialami mas Ridwan juga, mas Ridwan ditinggalkan pula oleh wanita yang ia banggakan saat itu..

Waktu memang begitu cepat, tahun dwini usia Aliya sudah mau 22 tahun dan mas Ridwan hampir 27 tahun, sejak lama pun Aliya pernah mengandai jika mas Ridwan menikah Aliya berniat untuk hadir sekalian berlibur di Surabaya, namun hal yang sebaliknya yang terjadi, mas Ridwan tanpa memberi kabar apapun tiba-tiba di salah satu komentar akun sosial medianya ada yang berkata bahwa seseorang yang dibelakang mas Ridwan  ialah istrinya. Ya you know lah, Aliya ada sedikit rasa kecewa, ya memang sudah tak sedekat dulu, tapi Aliya merasa tidak ada salahnya jika ia dikabari. Ya apa mau dikata, bermodal penasaran Aliya bertanya kepada adik mas Ridwan, lalu dengan jawaban yang seolah menutup-nutupi dan bertele-tele Aliya mendapat jawaban yang ia harapkan, bahwa mas Ridwan telah melakukan akad pada tanggal 25 bulan kemarin.

Mungkin cerita ini berakhir ya teman, tapi cerita Aliya berikutnya masih banyak. Kita tidak bisa memandang suatu peristiwa hanya pada satu sisi saja. Masih ada seribu sisi lain yang menawarkan harapan-harapan. Dan saat ini Aliya sadar sepenuhnya bahwa;
  • Ia telah diberhentikan dari cinta yang salah,
  • Menyalurkan rasa suka pada orang yang belum tentu jadi rezeki kita adalah hal yang keliru apalagi bila kenyataannya saat ini menjadi rezekinya (jodohnya) orang lain
  • Jika ingat masa-masa yang orang sebut itu indah ialah seolah hanya pembuangan waktu
  • Semua ceritanya, keluh kesahnya, dan hal apapun yang telah Aliya dan mas Ridwan bicarakan seolah hanya suatu hal yang sia-sia
 Namun semua itu adalah pelajaran yang sangat berharga bagi Aliya, yakni belajar mengikhlaskan, sejauh mana lisannya tak perlu berucap "Aku ikhlas" tapi dengan perilaku yang Aliya tunjukan, mungkin memang saatnya Aliya tak memikirkan hal yang seperti demikian, apalagi jika untuk yang kedua kalinya ia harus terjatuh, tidak, semoga tidak, karena masih banyak teduh yang tersedia di bawah langit meski mentari bersinar pada saat kemampuan terbaiknya..



Jumat, 23 Februari 2018

Bilangin Sama Om Dilan yaa ^^

Satu waktu ada kata yang salah dicernaIa mengarah pada sebuah pertemuan, padahal maksudku untuk menyarankan
Ku libatkan hal yang tak seharusnya ku hadirkan
Memilih antara iya atau tidak
Namun janjiku sudah terlanjur ku lemparkan

Empat minggu rasanya terlalu lama
Seolah aku selalu menanti hari itu tiba
Yang pada aslinya aku bingung separuh raga untuk melihat kembali senyumnya

Senja tetap dan terus berganti
Hingga seolah hari yang kunanti terasa tak begitu berarti
Aku macam pejalan kaki yang kehilangan kompas
Tak tahu mana Timur ataupun Barat
Tak tahu haruskah aku bertemu dalam keadaan yang tak selaras
Baik raga maupun jiwa
Rasanya lelah dan enggan untuk melihat harinya
Tak ada gairah apalagi bisikan untuk melangkah menujunya
Tapi apalah dikata, lisanku telah terucap dan diriku harus menepatinya

Ya hari terasa semakin cepat,
Mungkin karena aku tak merasa tengah menunggunya
Dengan dingin malam ku tebalkan kain penutup badan
Bis itu melaju dan mengundang ketidak nyamanan
Hingga sampai ku di persinggahan

Singkat cerita, sang pagi nampak datang lebih awal
Tak ada sepotong pesan pun masuk dalam genggaman
Ya tapi tetap ini janjiku, aku rapihkan perbekalan

Lewat sang ular besi mengantarkanku ke suatu tempat yang telah tiga tahun ia tempati
Ku nampak seorang yang tengah mencari kawan
Duduk di pintu keluar stasiun menunggu kebahagiaan

Bosan ini tak terhindarkan,
Setelah ku kabari, tetap ia belum kunjung nampak
Mungkin setengah putaran jam berlalu ia baru mengangkat tangan memberi tanda hadirnya

Ku raih sapanya dengan duduk menemaninya
Ya, ku mulai hari itu dengan rasa yang sangat biasa
Ranselku yang cukup membebani bak berucap "Simpanlah aku dahulu, barulah kalian bersama"
Namun tetap ku bawa dengan kekuatan yang ada
Ah ya sudah, mungkin sudah seharusnya ku bawa, gumamku

Dibawanya ku menatap langit
Diatas bebatuan terlihat hamparan hijau dan air yang cukup menyejukkan mata
Angin segar bercampur panasnya udara pun tak tertinggal mengawal
Menyusuri pedesaan, hingga akhirnya takut tak bisa pulang lewati hutan
Rasanya hanya pengen rebahan saja atau duduk sambil kita makan sesuatu dan berbincang bersama
Lagi-lagi aku berpendapat dalam hati
Tapi apa daya orang itu tak bisa mendengar kata hati

Tak tertinggal sejarah yang beribu tahun pun kita temui
Beralas pasir beratap matahari
Belajar berbincang lintas budaya
Sampai sang senja pun tiba hendak menutup harinya

Yaa seperti itulah akhir pekanku kali ini
Yang entah kapan aku bisa mengulanginya
Karena dari kisah ini aku belajar
"Bahwasanya pertemuan tidaklah mengusaikan rindu, ia hanya akan menciptakan rindu yang baru"
(Bilangin sama Om Dilan yaa) wkwkwk



Selasa, 02 Januari 2018

Naik Kereta Gak Bawa KTP? Tenang, Ini Kisah Saya Lolos Cek Tiket, haha

Waktu itu, eh kemarin ding.. Pas libur tahun baru itu Lis ceritanya kebagian libur 2 hari, tanggal 31 Des 2017 dan tanggal 1 Januari 2018. Saya pesan tiket tanggal 30 tuh, maklum da dadakan saya mah, wkwk. Saya pesan tiket untuk berkunjung ke rumah kakak saya di Pekalongan, sumprit ini salah saya sih emang, saya inget dan taunya jadwal kereta itu jam 6.30 dan saya berangkat dari kos ya nyantai aja, jadi nyampe stasiun jam 6.18,  "Alhamdulillah masih bisa nyantai lah 12 menit lagi, cukup buat cetak tiket boarding pass" Gumamku dalam hati kayak gitu, tapi anehnya saya lihat mbak mbak ada yang lari lari gitu, dan salah satu kereta udah terdengar bunyi peluitnya.. Dari jauh, aku diteriakin bapak petugas "Mbak, kereta Kaligung ya?" "Iya Pak" jawab saya. "Kodenya berapa, mbak?" Tanya bapaknya dan seperti ingin segera mencetakkannya untuk saya. Dan seketika saya buka tuh kode booking, ladalaa *(sama dengan waduh) ternyata jam keretanya 6.20, dan ini kurang 2menit coy, saya luarii dah jadinya tuh.. Terus singkat cerita diprint-in bapaknya dan saya seketika ingat pula kalo saya gak bawa KTP "sumprit gila banget cuma kurang 2 menit gimana ini?* akhinya saya pasrah dan pasang muka separo kaget separo oon gitu, wkwk terus saya bilang aja "Paak, sayaa gak bawa KTP, lupaa" bapaknya juga ikut kaget gitu dan juga bingung malah tanya ke petugas lainnya "Pie iki?" (artinya: "Bagaimana ini") bapak yang lain nyaut, "Gapapa mbak masuk aja dulu" Dan setelah itu saya pasrah dah mau gak dibolehin naik juga gapapa deh, tiket pulang perginya bakalan anguss *duh bang remek ati adek* wahaha. Habis itu langsung ke peron kereta dan bawa tiket hasil boarding pass lalu jujur juran dah kalo saya gak bawa KTP tapi di tas untungnya kebawa dua kartu ATM dan buku satu rekeningnya "Pak, saya lupa ndag bawa KTP yang kebawa malah ATM, Pak" pake nada curhat, wkwk. Sumprit pasarah ya Allah.. Dan Bapak yang ngecek langsung bilang "Ya udah mbak gapapa, masuk, masuk.." Alhamdulillah bisa masuk tanpa dilihat ATMku dulu, senangnya langsung naik gerbong dan tiba-tiba gak faham urutan gerbong yang mana, wkwk panik campur seneng tuh kayak gitu, dan setelah nemu nomor kursi dan duduk yg kepikir cuma satu, nanti kalo saya balik dari Pekalongan apa masih boleh ya naik keretanya? *temewew banget dah tuh, ya udin singkat cerita pas perjalanan pulang saya bilang kata-kata yang sama pas sewaktu saya naik dari Semarang, tak tunjukin dah ATM dan buku rekeningnya, qodarullah banget di buku rekening itu ada no KTPnya dan di hp juga ada foto KTP saya.. Masya.Allah dah Allah Maha Penolong, dan akhirnya saya loloss *hiyee dan bisa balik Semarang lagi.. Hihi..

So seperti itulah kisahnya kawan, tapi jangan diturutin ya kalp pas saya jadi anak "last minutes" atau anak telatan, wkwk beresiko tinggi tapi alhamdulillah ada berkah disemua kejadian..
.
So KTPmu identitasmu, meski gak bawa KTP tetap tunjukan identitas yang baik sebagai seorang muslim.. *Cayoo..
.
Wassalamu'alaykum warahmatullaah...
.
Sampe jumpa di cerita berikutnya ^^