Sekitar 6 tahun yang lalu kata itu pernah terucap dari bibir Aliya, hal yang sepele saja selalu ia tanyakan kepada orang yang ia anggap dekat padahal nyatanya jauh. Aliya tinggal di Bogor, sedangkan orang yang ia panggil "Mas" itu bertempat tinggal di Surabaya, bak ujung Barat dan ujung Timur, sangat susah untuk bertemu namun hati Aliya meyakini bahwa ia bahagia meski terbentang jarak.
Kini Aliya sudah menjadi seorang penulis sesuai cita-citanya di Bogor, sesekali ruang rindu itu masih hadir menunggu kedatangannya dan seseorang yang kerap ia panggil "Mas" lewat telepon yang tak lain adalah mas alumni tambatan hati ya kita sebut saja ex-Hati yang memiliki nama lengkap Mas Ridwan, seseorang yang terpaut lima tahun dengan Aliya, semasa SMA Aliya mas Ridwan sudah lebih dulu menjajaki dunia kerja di salah satu pabrik percetakan di Surabaya, mereka merasa satu frekuensi karena sama-sama meyukai club sepak bola Persebaya, dan sangat senang jika sudah berbalas chat menggunakan puisi puisi pendek.
Aliya dan mas Ridwan saling kenal sejak masa SMA dan ketika masa kuliah mas Ridwan datang berlibur ke Bogor bersama keluarganya, disitulah Aliya pertama kali bertemu dengan Ibu dan Ayah serta adiknya mas Ridwan. Mas Ridwan memang terlihat tak seagresif laki-laki yang lain disaat menyukai seorang perempuan, mas Ridwan termasuk orang yang tak banyak bicara. Pertemuan kali ini membuat Aliya agak takut kepada Ayah mas Ridwan yang tampak garang namun penyayang. Tak banyak hal yang mereka lakukan waktu itu, hanya salaman, saling sapa, dan mengambil gambar. entah apa yang menjadi penyebab, setelah mas Ridwan dan keluarga kembali ke Surabaya, mas Ridwan memberi keputusan kalau sebulan lagi ia akan kembali dengan maksud menemui Aliya saja, sontak ini membuat Aliya terkejut dan bahagia, karena sebelumnya tidak ada yang pernah memberi ajakan se-spesial ini, jadi Alaiya pada kesempatan ini tak bisa menolak.
Singkat cerita, sebulan berikutnya mas Ridwan kembali seorang diri ke Bogor dan mengajak Aliya untuk pergi bersama, tak tinggal begitu saja, Aliya mengajak sahabatnya Arlita untuk menemani mereka merasakan atmosfer libur akhir pekan.
Cerita kita percepat, ketika masa magang semester 6 pun Aliya ditugaskan magang di Surabaya, dan Tuhan ijinkan untuk bertemu ibunya mas Ridwan di rumahnya, ya saat itu kedekatan Aliya dan mas Ridwan memang sudah hanya sepasi rembulan namun mereka tetap berteman, meski setelah lulus SMA mas Ridwan pernah berbicara yang cukup serius dengan menanyakan
"Sanggupkah Aliya untuk tinggal di Surabaya di masa yang akan nanti?"
"Sudah bisa masak apa aja, Aliya?"
dan yang paling serius
"Aliya, penghasilanku perbula cuma segini (sambil menyebutkan nominal) apa itu cukup untuk biaya hidup per bulan kita?"
"Oh iya, Aliya, ngontrak rumah juga tidak cukup biaya sedikit lho, apa kamu mau serumah sama ibu mas Rdwan?"
Peryanyaan-pertanyaan itu seolah menanyakan keseriusan Aliya, namun saat ini waktu berjalan, mas Ridwan tidak lagi seperhatian dulu, karena setelah tinggalkan Aliya, mas Ridwan pun punya kekasih lain yang lebih dekat ketimbang harus ke Bogor, namun nasib yang dialami Aliya pun dialami mas Ridwan juga, mas Ridwan ditinggalkan pula oleh wanita yang ia banggakan saat itu..
Waktu memang begitu cepat, tahun dwini usia Aliya sudah mau 22 tahun dan mas Ridwan hampir 27 tahun, sejak lama pun Aliya pernah mengandai jika mas Ridwan menikah Aliya berniat untuk hadir sekalian berlibur di Surabaya, namun hal yang sebaliknya yang terjadi, mas Ridwan tanpa memberi kabar apapun tiba-tiba di salah satu komentar akun sosial medianya ada yang berkata bahwa seseorang yang dibelakang mas Ridwan ialah istrinya. Ya you know lah, Aliya ada sedikit rasa kecewa, ya memang sudah tak sedekat dulu, tapi Aliya merasa tidak ada salahnya jika ia dikabari. Ya apa mau dikata, bermodal penasaran Aliya bertanya kepada adik mas Ridwan, lalu dengan jawaban yang seolah menutup-nutupi dan bertele-tele Aliya mendapat jawaban yang ia harapkan, bahwa mas Ridwan telah melakukan akad pada tanggal 25 bulan kemarin.
Mungkin cerita ini berakhir ya teman, tapi cerita Aliya berikutnya masih banyak. Kita tidak bisa memandang suatu peristiwa hanya pada satu sisi saja. Masih ada seribu sisi lain yang menawarkan harapan-harapan. Dan saat ini Aliya sadar sepenuhnya bahwa;
- Ia telah diberhentikan dari cinta yang salah,
- Menyalurkan rasa suka pada orang yang belum tentu jadi rezeki kita adalah hal yang keliru apalagi bila kenyataannya saat ini menjadi rezekinya (jodohnya) orang lain
- Jika ingat masa-masa yang orang sebut itu indah ialah seolah hanya pembuangan waktu
- Semua ceritanya, keluh kesahnya, dan hal apapun yang telah Aliya dan mas Ridwan bicarakan seolah hanya suatu hal yang sia-sia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar