Satu waktu ada kata yang salah dicernaIa mengarah pada sebuah pertemuan, padahal maksudku untuk menyarankan
Ku libatkan hal yang tak seharusnya ku hadirkan
Memilih antara iya atau tidak
Namun janjiku sudah terlanjur ku lemparkan
Empat minggu rasanya terlalu lama
Seolah aku selalu menanti hari itu tiba
Yang pada aslinya aku bingung separuh raga untuk melihat kembali senyumnya
Senja tetap dan terus berganti
Hingga seolah hari yang kunanti terasa tak begitu berarti
Aku macam pejalan kaki yang kehilangan kompas
Tak tahu mana Timur ataupun Barat
Tak tahu haruskah aku bertemu dalam keadaan yang tak selaras
Baik raga maupun jiwa
Rasanya lelah dan enggan untuk melihat harinya
Tak ada gairah apalagi bisikan untuk melangkah menujunya
Tapi apalah dikata, lisanku telah terucap dan diriku harus menepatinya
Ya hari terasa semakin cepat,
Mungkin karena aku tak merasa tengah menunggunya
Dengan dingin malam ku tebalkan kain penutup badan
Bis itu melaju dan mengundang ketidak nyamanan
Hingga sampai ku di persinggahan
Singkat cerita, sang pagi nampak datang lebih awal
Tak ada sepotong pesan pun masuk dalam genggaman
Ya tapi tetap ini janjiku, aku rapihkan perbekalan
Lewat sang ular besi mengantarkanku ke suatu tempat yang telah tiga tahun ia tempati
Ku nampak seorang yang tengah mencari kawan
Duduk di pintu keluar stasiun menunggu kebahagiaan
Bosan ini tak terhindarkan,
Setelah ku kabari, tetap ia belum kunjung nampak
Mungkin setengah putaran jam berlalu ia baru mengangkat tangan memberi tanda hadirnya
Ku raih sapanya dengan duduk menemaninya
Ya, ku mulai hari itu dengan rasa yang sangat biasa
Ranselku yang cukup membebani bak berucap "Simpanlah aku dahulu, barulah kalian bersama"
Namun tetap ku bawa dengan kekuatan yang ada
Ah ya sudah, mungkin sudah seharusnya ku bawa, gumamku
Dibawanya ku menatap langit
Diatas bebatuan terlihat hamparan hijau dan air yang cukup menyejukkan mata
Angin segar bercampur panasnya udara pun tak tertinggal mengawal
Menyusuri pedesaan, hingga akhirnya takut tak bisa pulang lewati hutan
Rasanya hanya pengen rebahan saja atau duduk sambil kita makan sesuatu dan berbincang bersama
Lagi-lagi aku berpendapat dalam hati
Tapi apa daya orang itu tak bisa mendengar kata hati
Tak tertinggal sejarah yang beribu tahun pun kita temui
Beralas pasir beratap matahari
Belajar berbincang lintas budaya
Sampai sang senja pun tiba hendak menutup harinya
Yaa seperti itulah akhir pekanku kali ini
Yang entah kapan aku bisa mengulanginya
Karena dari kisah ini aku belajar
"Bahwasanya pertemuan tidaklah mengusaikan rindu, ia hanya akan menciptakan rindu yang baru"
(Bilangin sama Om Dilan yaa) wkwkwk