Minggu, 01 April 2018

Purnama Berbalas Rin(Sen)du

Pagi ini terasa merekah
Sang fajar masih ditemani purnama
Kakiku melangkah kuat tanpa ada tayangan masa lalu

Segar ini semerbak menyerutkan sebuah senyum dari tanah gersang
Bertemu dengan kakak cantik yang berucap terima kasih saat membuka matanya

Selanjutnya, pagiku bersambung riuh
Berantai ratusan ratusan kaki yang tengah mengais rezeki
Langkah yang ku tujukan hanya untuk menikmati hangatnya kota

Menjelang siang, kembali ku basuh diri ini
Bergegas berseragam menyambangi ruangan yang biasanya ku lewatkan
Pekerjaan hari ini belum begitu tampak jelas
Belum ada pasien datang yang membutuhkan pertolongan

Detak jam tak seirama dengan detak hati
Jam yang selalu tunjukkan angka, sedangkan hati selalu bunuhkan rindu
Tak sekedip pun lagi lagi ku ingatkan kejadian beberapa tahun lalu

Tak lama menunggu, pelayanan kesehatan yang kami sediakan ada yang menyambangi
Sebuah keluarga bahagia nampak tiba dengan benar-benar bahagia
Seorang anak yang aku fokuskan, bersama sang Ayah beserta bundanya
Aku fikir ia adalah mahasiswa
Namun didengar dari cakapnya ia bak kesulitan berbahasa
Dugaanku terlempar bahwa anak itu adalah mahasiswa yang berkuliah di luar negeri
Jadi, dialeg yang ia gunakan seperti orang dari negeri sakura
Ah, sudahlah prasangkaku ku sudahi dengan mengukur tekanan darah sang Ayah
Yang tak lama si Ayah berkata "Putra kami baru kelas VIII Kak, tapi badannya memang besar"
Lalu percakapan ringan dan penuh canda pun terjadi diantara kami

Setelah semua selesai, keluarga itu pulang
Lalu aku berbincang dengan sang kakak kelas perihal kenangan masa di bangku kuliah
Semua nampak indah dengan cerita tanpamu didalamnya
Ya, lagi lagi aku tak mengingatmu

Menjelang sore, waktu istirahat tiba
Ku saut kotak nasi yang ku bawa,
Ku tulis rencana-rencana bulan ini dengan segenap usaha
Tak ku niati untuk memejamkan mata
Namun apa daya aku terlelap juga

Dering telepon membangunkanku, menandakan bahwa waktu tidurku melampaui batas
Ku terbangun dan merapikan diri, kembali ke meja kerja dengan mata terlipat di tepi
Lagi-lagi sampai sesore itu aku tak mengingatmu

Menjelang surup, buku resepsionis harus segera aku tutup
Laporan keuangan harus terapikan seiring berhembusnya angin bertiup
Lampu ku matikan, ranselku bawakan
Dan lagi-lagi aku tak mengingatmu

Kini, malam sudah bukakan pintunya
Aku masih belum meninggalkan tempat kerjaku
Ku mendekati kakak imut yang tengah memasukan serbuk ke dalam kapsul
Aku menyukainya, menyukai cara mengemas kapsulnya
Dan aku bersenang hati agar dapat melakukannya
Kembali, lagi dan lagi aku tak mengingatmu sejauh ini di hari ini
Sungguh tak ku sadari
Mengagumkan bukan?

Sudah saatnya purnama muncul temani sang malam
Sudah saatnya pula aku pulang ke kamar yang tak begitu luas
Ku lihat ponselku, karena biasanya Ibukku dengan setia selalu berbagi kisah
Dan setelah berbisik lembut dengan sedikit gundah yang ibu ceritakan lewat telepon
ku buka sosial media yang telah lama ku gundahkan tentangmu
Tentang menghapus atau kah tetap menyimpannya
Tentang memblokir atau kah membiarkannya
Sebetulnya sangat senang jika aku memblokir atau menghapusnya saja
Setidaknya aku tidak akan berharap ada pesan yang datang darinya
Ataupun story nya yang bisa aku lihat dari namanya
Apalagi jika story itu adalah seolah tentang teman yang lain
Jika itu terjadi, aku merasa bahwa kita sudah tak berteman
Jangankan bercanda tentang hari kita, menanyakan kabarku saja kau tidak pernah
Jangankan bertemu seperti dulu, memberi salam lewat media saja nampaknya susah
Ah, kenapa lagi aku?
Setelah melihat story-mu sore ini, ingatanku pulih
Kamu tunjukan penghargaan dengan senyum yang seolah melupakan, ya melupakanku maksudnya
Awalnya aku tak mau membukanya, tapi hati ini belum kuat menahannya
Ah, apalagi ini?
Jemariku jadi pandai menekan beberapa huruf yang ada di komputer kecil ini
Anganku seolah memunculkan beberapa pertanyaan untukmu
Seperti inikah caramu berteman, kawan?
Seperti itukah caramu melupakan?
Memang mungkin kau rasa tak ada yang istimewa dalam hari-hari kita dulu
Tapi bagiku, setidaknya dua tahun kita berteman itu cukup mengenangkan,
Piring yang kita gunakan makan pun pernah berdampingan
Semudah itu kah semuanya kau retakkan?
Hanya dengan alasan kita sudah dipisahkan dengan toga dan gelar masing-masing kawan


~