Senin, 07 November 2016



Bicaralah, Ayah..

Pagi itu aku terbangun dengan sedikit rasa tidak enak di area pinggang sebelah kiri. Jujur, semalam sebelum tidur seusai bergelut dengan perasaan yang cukup tidak mengenakan, aku paksakan merebahkan badanku diatas kasur kos pada waktu yang lebih awal dengan harapan seketika bangun nanti aku kan merasakan kesegaran dan lupa akan hal yang telah terjadi tadi sore.
Sudah lama sekali aku tidak berjumpa dengan Ayah, bukan karena hal yang begitu mementingkan namun ini masalah waktu. Waktu berjalan terasa begitu cepat, hingga sekarang aku telah memasuki semester lima. Semester yang boleh dibilang “tua” karena semester enam nanti sudah waktunya wisuda.
Ayah adalah sosok yang penyabar yang aku kenal dalam keseharianku, namun ia juga tegas dalam menyuruhku tidur jika sudah jam 21.00, yang selalu bernada agak kesal jika waktu sudah menunjukan waktu Maghrib dengan posisiku yang belum selesai makan sore, dan banyak lagi. Aku memang tidak terlalu dekat dengan ayah namun Ayah selalu saja memperhatikan hal-hal kecil dariku seperti kerah baju yang belum rapi ketika hendak berangkat sekolah, padahal seragam sekolahku pakai kerudung, jadi tidak begitu masalah jika kerah bajuku berantakan, namun tetap ssaja Ayah selalu mengingatkan, bahkan merapikannya langsung.
Kini, pagi ini, aku cukup terheran. Semenjak waktu SMA aku tidak pernah bertemu Ayah secara langsung, tapi semalam Ayah datang. Tapi mengapa setiap Ayah datang, tidak pernah Ayah katakan sepatah kata pun? Apa ini yang namanya “Rindu”? dan aku tersadar bahwa baru saja aku terbangunkan oleh lantunan surat Al-Fatihah dari alarm handphoneku, dan aku ingat bahwa ketika libur semester empatlah terakhir kalinya aku bawakan dua tangkai bunga yang hanya aku petik di jalan untuk Ayah. Semoga, Ayah selalu bangga dengan perjuangan kami putra-puterimu, Ayah tak perlu khawatir aku bisa menghadapi masa transisi remaja menuju dewasa ini, dan Ayah tidak perlu risau, Ayah selalu ada disini, senyum Ayah tersimpan rapi disini, di hati puteri bungsumu..


 ~ Regular Teenager ^.^

Rabu, 08 Juni 2016

             O Allah, You`re the Reason I Never Give Up

Mencintaimu sehari lima kali dalam do'aku
Mencintai-Nya dalam setiap hembusan nafasku

Mungkin kamu jadi sebulir semangatku
Tapi Dia adalah semangat terbesar dalam hidupku

Iya senyummu memang sempat ku nanti
Tapi senyum-Nya yang ku harap abadi dalam hati

Rindu padamu hanyalah semu yang ku perjelas
Tapi rindu pada-Nya nyata tak pernah kandas

pernah ku harapkan kau bantu kerjakan tugasku
Tapi ku harap sepenuhnya agar Dia menolong seluruh hidup matiku

Sempatku inginkan bahumu untuk bersandar
Tapi tetap Dia yang selalu buatku tegar

Kamu bisa saja banyak yang menginginkan
Tapi aku harap hanya aku yang meminta pada-Nya agar kita dipertemukan

Banyak impian yang ingin ku lakukan bersamamu
Tapi bersama-Nya saat ini sangat begitu membantuku

Biarlah bunga itu belum kau berikan padaku
Tapi setiap senja adalah bunga cantik-Nya dalam hariku

Aku sempat terjatuh dalam lesung pipitmu
Tapi tetap Dia yang membuatku terjatuh dalam skenario terindah-Nya

Salahku pernah berharap padamu
Padahal sebenarnya Dia adalah harapan terbesar dalam hidupku

Kamu yang jauh disana sempat ku inginkan hadirmu
Padahal Dia-lah yang lebih dekat daripada nadiku

Kamu adalah kesalahan yang selalu ku coba benarkan
Padahal Dia adalah kebenaran yang tak tersembunyikan

Semoga pergiku tak menjadi penyesalan
Untuk-Nya yang setiap waktu aku butuhkan

Jujur, aku mengagumimu
Namun mencintai-Nya adalah hal yang lebih mengagumkan

Aku yakin Dia akan bawaku pada takdir terbaik-Nya
Jalani petualangan atas ridha-Nya
Yang kelak pertemukan kita di sebuah persimpangan
Perankan kita dalam sketsa cinta-Nya
Mengijinkan kita dalam bimbingan manis-Nya
Bersabarlah..
Karena menuju keindahan itu ada waktunya ;)


``Regular Teenager``